06 April 2007

Bank Gelap yang Marak

Berinvestasi dalam bidang keuangan rupanya tetap saja menjadi minat banyak orang. Padahal seringkali diberitakan, investasi model ini belakangan hanya akan mendatangkan kerugian. Praktek investasi keuangan dalam berbagai bentuknya banyak yang akhirnya terbongkar sebagai praktek penipuan belaka.

Di Bandung sendiri ternyata begitu banyak orang yang tertarik menanamkan uangnya dan berinvestasi dengan model seperti ini. Bahkan, sejak tahun 2005 saja diperkirakan uang warga Bandung yang ditanam dalam investasi tak jelas macam ini mencapai sekitar 1 Triliun rupiah (PROL). Suatu jumlah yang sangat besar. Praktek investasi yang tak jelas ini secara mudah lebih dikenal sebagai ''Bank Gelap'' karena menjalankan fungsi yang mirip perbankan, namun tidak resmi terdaftar sebagai bank.

Terus munculnya usaha-usaha penipuan ini menunjukkan bahwa 'pasar'nya tetap ada. Orang banyak tetap saja tertarik dengan cara investasi keuangan seperti ini walaupun sejak dulu telah berkali-kali diberitakan akhir memilukan dari para nasabah Bank Gelap ini. Orang banyak sepertinya tidak perduli, atau lupa, atau ambil resiko dengan harapan keuntungan yang berlipat-lipat.

Yang menarik, ternyata orang-orang yang tertarik mengikuti program seperti ini adalah orang-orang dari kelompok ekonomi menengah ke atas. Orang-orang yang telah berhasil memenuhi kebutuhan hidup utama mereka dan mereka mempunyai kelebihan keuangan. Kelebihan keuangan ini membuat mereka mencari jalan untuk semakin mengembangkan harta mereka. Tentu saja, jalan pintas dengan iming-iming untung yang berlipat ganda selalu menarik perhatian. Jadilah mereka menginvestasikan tabungan mereka ke usaha keuangan Bank Gelap tersebut. Umumnya, keuntungan yang dijanjikan oleh pengelola seolah-olah terealisasikan pada awal investasi. 'Keuntungan' (saya menduga 'keuntungan' yang dibagikan itu tidak lain hanyalah modal yang dikumpulkan dari banyak nasabah, jadi sebenarnya uang nasabah sendiri yang ditanamkan dalam jumlah yang besar) ini tentu saja seolah-olah membuktikan janji pengelola dan dengan demikian dapat menjadi iklan untuk mendatangkan nasabah-nasabah baru. Dengan menampilkan 'keuntungan' tersebut, bisa jadi pula nasabah yang telah berinvestasi akan semakin tertarik dan yakin sehingga mereka dengan suka rela menambah investasi mereka. Lalu setelah berjalan sekian lama, dengan jumlah nasabah yang semakin banyak, mulailah sedikit demi sedikit timbul masalah dan akhirnya terbongkarlah penipuan itu dengan sekian ribu orang nasabah yang menjadi korban.