16 January 2007

Berdikusi dengan Ahli Kitab

Dalam salah satu ayat (QS: 3:64), Allah menjelaskan:
Katakanlah:"Hai Ahli kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah selain Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah)"
Juga dalam ayat lain (QS:29:46):
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka. Dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (Kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepadaNya berserah diri.
Berdiskusi dengan Ahli Kitab atau dengan istilah yang lebih pas: berdebat memang tidak akan menemui titik temu. Sebelum memulai diskusi atau perdebatan, yakinkanlah dulu dalam hati apakah yang ingin kita cari dalam diskusi tersebut? Ingin menyadarkan dan menunjukkan kepada mereka akan hal-hal yang kita anggap keliru? Ingin membuat mereka menyadari kekeliruan tersebut? Ingin menunjukkan bahwa kita tahu lebih banyak tentang agama mereka daripada mereka sendiri? Ini adalah angan-angan yang terlalu besar. Ingatlah bahwa hidayah dan kesadaran adalah Hak Allah. Dan kembalikanlah dulu kepada diri sendiri: seberapa jauh kita memahami apa yang akan kita diskusikan?

Hati-hatilah bahwa Iblis membonceng dalam kesombongan dan keangkuhan, membonceng dalam sikap merasa lebih baik. Sebagai mana alasan iblis yang tidak mau menghormat pada Adam, karena kesombongan dan merasa dirinya lebih baik. Berhati-hatilah bahwa diskusi dan perdebatan yang dilandasi sikap sombong justru dapat menyeret kita pada dosa dan menggerus iman dan keyakinan kita tanpa kita sadari.

Istilah-istilah yang kita kenal, seperti dosa, nabi, rasul, ruh dan sebagainya juga dikenal dalam istilah keagamaan para Ahli KItab. Tapi ketahuilah bahwa terkadang istilah tersebut dipahami berbeda dengan yang kita pahami. Jadi bagaimana mungkin kita akan menemukan titik temu dari memperdebatkan istilah yang dipahami (bukan diartikan) secara berbeda? Misalnya saja soal dosa warisan, setelah tukar menukar informasi sedikit terkuak bahwa yang mereka maksud dosa warisan agak berbeda dengan dosa yang kita pahami. Tampaknya dosa warisan bagi mereka adalah seperti masalah alami kemanusiaan, seperti sakit, mati, sifat-sifat buruk dan lain sebagainya. Jadi perdebatan tidak akan menghasilkan apa yang kita inginkan.

Ayat pertama yang dikutip menjadi pegangan bagi kita dalam menghadapi diskusi dan perdebatan dengan Ahli Kitab: bahwa carilah persamaannya dan tidak usah berdebat tentang perbedaannya. Bahwa kita dan mereka seharusnya memurnikan penyembahan kita hanya kepada Allah dan tidak mengotori ibadah kita dengan perbuatan syirik dalam bentuk apapun. Berhati-hatilah bahwa kesesatan yang sering kita tuduhkan kepada mereka sangat mungkin pula menjangkiti diri kita meskipun dalam bentuk yang berbeda.Ayat kedua semakin menegaskan anjuran untuk berdiskusi dan berdebat dengan cara yang baik dan sejalan dengan ayat pertama, ayat kedua ini juga menganjurkan kita untuk mengedepankan persamaan ketimbang memperdebatkan perbedaan. Ketahuilah bahwa kepada Allah-lah kita akan kembali dan Dia akan menjelaskan segala sesuatu yang diperdebatkan oleh manusia. Berserahdirilah kepada Allah, dan harapkanlah petunjuk dan bimbinganNya agar kita dapat mengikuti Jalan Yang Lurus menuju ketaqwaan kepada Allah.

Wallahu'alam