"ikatlah pengetahuan dengan menuliskannya, dan kembangkan dengan menyebarkannya"
24 November 2006
Kenangan tentang Jonggol
Kabarnya di daerah Jonggol baru-baru ini telah ditemukan ladang minyak. Menurut penelitian yang dilakukan, jumlah cadangan minyak di kawasan tersebut mencapai 300 juta barrel dan eksplorasinya bisa memakan waktu selama 70 tahun. Saat ini pemerintah setempat tengah melakukan proses pembebasan tanah yang nantinya akan digunakan sebagai lokasi eksplorasi.
Sekarang bukan soal dugaan cadangan minyak tersebut, tapi tentang Jonggol.
Jonggol adalah suatu daerah kecamatan yang masuk wilayah Bogor, letaknya di sebelah Selatan Jakarta. Nama daerah ini mulai jadi pembicaraan orang beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar akhir tahun 80-an. Saat itu muncul wacana memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Jonggol. Alasannya karena Jakarta dianggap sudah kurang layak menjadi ibukota pemerintahan. Ramainya wacana itu tentu saja karena pengusung idenya adalah dari keluarga Cendana. Saya lupa, entah HMP atau BTH yang melalui unit usahanya mempunyai ide membangun Jonggol dan memindahkan pusat pemerintahan ke sana. Tapi entah karena apa, ide yang sempat ramai itu tidak ada kelajutannya. Padahal, bila melihat pengusung ide tersebut nampaknya bakal berlanjut, apalagi pada masa itu ketika unit bisnis keluarga Cendana sedang kuat-kuatnya dan didukung pula oleh kekuasaa yang masih besar.
Kemudian, memori tentang Jonggol sempat terkubur dalam benak saya, dan baru muncul beberapa tahun kemudian kira-kira pertengahan tahun 90-an. Saya sedang kuliah di Bandung dan cukup sering (sekitar satu bulan sekali) menempuh perjalanan pulang pergi Bandung-Jakarta. Biasanya saya menggunakan bis. Ada dua rute bis Bandung-Jakarta, yaitu lewat Purwakarta-Cikampek dan yang satunya adalah lewat Cianjur. Rute yang saya senangi dan sering saya pilih adalah yang melalui Cianjur. Sebenarnya saya menyenangi rute ini karena biasanya setelah dari Cianjur, bis akan masuk daerah Puncak yang pemandangannya indah. Sayangnya, jika melakukan perjalanan dengan bis dari Bandung-Jakarta atau sebaliknya pada masa akhir pekan umumnya tidak dapat melalui daerah Puncak karena biasanya daerah tersebut lalu lintasnya sangat ramai oleh kendaraan pribadi sehingga angkutan umum antar kota tidak boleh melalui kawasan Puncak. Kalau kawasan Puncak ditutup untuk kendaraan umum antar kota, maka rute bis ke Jakarta biasanya dialihkan melalui Jonggol atau bisa juga Sukabumi. Jadilah, beberapa kali saya melewati daerah Jonggol tersebut, baik dari arah Bandung maupun dari arah Jakarta.
Jauh sekali perbedaan kondisi sarana transportasi antara kawasan Puncak dengan Jonggol. Di daerah Jonggol, jalan yang dilalui bis antarkota sangat sempit. Bila berpapasan dengan bis lain, salah satu harus menepi lebih dahulu ke pinggiran jalan yang berumput memberikan jalan kepada bis lainnya. Jalan yang sempit juga diperburuk dengan kualitas jalan yang sebenarnya tidak memadai untuk dilalui kendaraan-kendaraan besar. Akibatnya di banyak tempat jalan rusak dan berlubang-lubang. Selain itu jalannya berliku-liku dengan tikungan yang tajam. Di satu sisi jalan, lembah yang lumayan curam membuat pengemudi harus selalu waspada dan hati-hati. Berbeda dengan kawasan Puncak, tidak ada pemandangan indah yang dapat dinikmati selama perjalanan melalui daerah ini.
Itu kondisi sarana jalan di Jonggol yang tidak jauh dari Jakarta pada waktu itu. Jalur ini sebenarnya menjadi jalur alternatif menghindari kawasan Puncak, tapi nampaknya tidak dipersiapkan dengan baik.
Ditulis oleh
Khairul Basar