17 January 2016

Pasca Bom Sarinah

Setelah kejadian ledakan bom dan tembak-menembak di sekitaran Pusat Perbelanjaan Sarinah, Jakarta Pusat beberapa hari yang lalu muncul semacam gerakan di media sosial yang pada intinya menyampaikan sikap "tidak takut". Konon ini dimaksudkan menyampaikan pesan kepada siapapun yang bermaksud menebar ketakutan (teror) bahwa apa yang mereka tujukan itu (yaitu rasa takut) tidaklah berhasil sama sekali. Gerakan di media sosial ini muncul dalam bentuk penggunaan tanda pagar (hashtag) misalnya "#kamitidaktakut", "#indonesiaberani", dlsb ataupun munculnya gambar-gambar pesan (istilahnya meme) yang mencoba menguatkan pesan tidak takut tersebut.

Namun, lama-kelamaan gerakan dan sikap ini perlu dikritisi juga. Karena tipis batas antara "tidak takut" dengan "tidak waspada", tipis batas antara "tidak takut" dengan "ceroboh", tipis batas antara "tidak takut" dan "nekat". Jangan sampai kampanye "tidak takut", yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tujuan orang yang ingin menebarkan ketakutan itu tidak tercapai, justru sampai pada taraf berlebihan dan menjadi "tidak waspada", "tidak hati-hati", "tanpa perhitungan", "nekat" dan lain sebagainya.

Omong-omong tentang frase "tidak takut" yang diulang-ulang terus menerus, saya jadi ingat biasanya ini dilakukan oleh anak-anak kecil saat bermain dengan teman-temannya. Biasanya jika ada seorang anak yang usil dan jahil yang mencoba menakut-nakuti anak lain baik dengan alat ataupun perbuatan, maka anak-anak yang ditakut-takuti itu berusaha mengusir rasa takut dengan berteriak-teriak "tidak takut..., tidak takut..., tidak takut..." sambil menantang bahkan terkadang disertai dengan ejekan dan cemoohan terhadap anak yang menakut-nakuti itu, walaupun sebenarnya mereka ini tetap saja ketakutan.

Adapun orang dewasa tidak perlu mengulang-ulang ungkapan "tidak takut" itu, atau bahkan tidak perlu mengungkapkannya secara verbal. Karena sebenarnya rasa takut adalah sesuatu yang penting dan sifatnya manusiawi (natural), itulah yang membuat kita waspada, berhati-hati dan bersiap serta penuh perhitungan. Rasa takut jualah yang telah memandu evolusi dan perkembangan peradaban manusia. Takut terhadap serangan binatang buas membuat manusia purba memilih tempat tinggal yang memungkinkan mereka terhindar dari serangan binatang buas, mereka juga membuat senjata, menyiapkan pertahanan serta jebakan, dlsb. Takut akan kelaparan dan masa depan yang tidak pasti membuat orang menyiapkan segala sesuatu dengan belajar dan mengembangkan pengetahuan/ teknologi.