"ikatlah pengetahuan dengan menuliskannya, dan kembangkan dengan menyebarkannya"
23 February 2009
Sunnatullah dan keajaiban
Bagi seorang muslim contoh terbaik dalam menjelani kehidupan adalah yang diberikan oleh Muhammad SAW. Dari perjalanan hidupnya, bisa diambil contoh bagaimana beliau menghadapi suatu masalah. Memang, bukan berarti masalah dan penyelesaian yang beliau ambil dapat tepat sama dengan kehidupan saat ini karena apa yang beliau alami terikat oleh ruang waktu.
Apakah ada keajaiban yang pernah Rasullah alami? Setahu saya tidak. Beliau berperang, berdagang, berkeluarga, sakit, kadang-kadang kelaparan karena tidak ada makanan yang bisa dimakan. Dalam kehidupan kesehariannya benar-benar sebagaimana layaknya manusia biasa. Hal ini selalu ditekankannya bahwa beliau hanyalah manusia biasa (sama seperti sahabat-sahabatnya) yang membedakannya adalah karena beliau menerima wahyu Allah dan mengemban tugas kenabian.
Jadi, beliau bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tak ada keajaiban dalam hal ini. Tidak ada dispensasi khusus untuk beliau sehingga, misalnya beliau dapat terjamin kebutuhan pangannya tanpa berusaha. Sama seperti manusia lainnya, kalau tidak makan maka akan merasakan lapar. Dan sering diceritakan bahwa beliau berpuasa karena tidak ada makanan yang bisa dimakan (karena telah disedekahkan kepada orang lain).
Beliau juga berperang mempertahankan diri dan demi tegaknya Islam. Beliau menyusun strategi perang dan mendiskusikannya dengan para sahabat. Tidak selalu strategi yang beliau usulkan disetujui oleh pasukannya sehingga beliau mengalah dan menerima usulan strategi yang lain. Tidak selalu perang yang beliau pimpin diakhiri dengan kemenangan. Perang Uhud merupakan contoh di mana pasukan yang beliau pimpin mengalami kekalahan bahkan beliau sendiri mengalami luka-luka yang parah. Tidak ada keajaiban dalam hal ini, semuanya alami dan berjalan sesuai hukum sebab-akibat yang merupakan sunnatullah. Dalam kehidupan kesehariannya, tidak pernah beliau melanggar hukum sebab akibat tersebut.
Beliau pun sakit, dan berobat dengan pengobatan yang biasa. Beliau pernah diracun oleh musuhnya dan bekas pengaruh racun tersebut tetap beliau rasakan sepanjang hidupnya.
Orang akan berkata, jika Allah berkehendak tentunya akan diberikan kepada Muhammad keajaiban-keajaiban dalam kehidupan kesehariannya. Benar! Apa yang tidak mungkin bagi Sang Maha Kuasa?
Jika kepada orang yang paling dikasihiNya saja Allah tidak memberikan keajaiban-keajaiban kehidupan dan membiarkan Muhammad menjalani kehidupan secara alami dilingkupi hukum sebab-akibat dan sunnatullah, maka mengapakah kita mesti mengharapkan keajaiban-keajaiban yang bertentangan dengan sunnatullah?
Ditulis oleh
Khairul Basar