Daniel Goleman beberapa tahun yang lalu mempopulerkan istilah Emotional Intelegence
yang diterjemahkan sebagai kecerdasan emosional sebagai sisi lain
kecerdasan yang dimiliki oleh manusia. Sebelumnya, setiap berbicara
tentang kecerdasan, orang selalu terfokus pada apa yang disebut
kecerdasan intelektual seperti kemampuan berhitung, logika, abstraksi
dan lain-lain. Tingkat kecerdasan ini biasanya dikaitkan dengan nilai
IQ.
Menurut Goleman, untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam bidang yang kita hadapi (apapun bidang itu) kecerdasan intelektual saja tidalah cukup. Bahkan kalau boleh dikatakan peran kecerdasan intelektual tersebut kecil saja dibandingkan dengan sisi lain kecerdasan yang ia namakan sebagai kecerdasan emosional. Banyak orang pintar (cerdas secara intelektual) namun gagal dalam pekerjaan yang ditekuninya karena tidak atau kurang cerdas secara emosi.
Salah satu contoh rendahnya kecerdasan emosional adalah sikap menganggap remeh. Dicontohkan orang yang pintar (cerdas secara intelektual) tidak lulus dalam suatu ujian hanya karena ia menganggap remeh ujian tersebut sehingga tidak berusaha mempersiapkan diri menghadapi ujian tersebut.
Yang menarik, kecerdasan emosional ini menurut Goleman adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan dilatih atau dibiasakan. Jadi berbeda dengan kecerdasan intelektual (yang biasanya diukur dengan nilai IQ) yang umumnya bersifat potensial.
Menurut Goleman, untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam bidang yang kita hadapi (apapun bidang itu) kecerdasan intelektual saja tidalah cukup. Bahkan kalau boleh dikatakan peran kecerdasan intelektual tersebut kecil saja dibandingkan dengan sisi lain kecerdasan yang ia namakan sebagai kecerdasan emosional. Banyak orang pintar (cerdas secara intelektual) namun gagal dalam pekerjaan yang ditekuninya karena tidak atau kurang cerdas secara emosi.
Salah satu contoh rendahnya kecerdasan emosional adalah sikap menganggap remeh. Dicontohkan orang yang pintar (cerdas secara intelektual) tidak lulus dalam suatu ujian hanya karena ia menganggap remeh ujian tersebut sehingga tidak berusaha mempersiapkan diri menghadapi ujian tersebut.
Yang menarik, kecerdasan emosional ini menurut Goleman adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan dilatih atau dibiasakan. Jadi berbeda dengan kecerdasan intelektual (yang biasanya diukur dengan nilai IQ) yang umumnya bersifat potensial.