"ikatlah pengetahuan dengan menuliskannya, dan kembangkan dengan menyebarkannya"
29 November 2007
Kasus Moriya
Proses pemeriksaan terhadap mantan pejabat departemen pertahanan Jepang Mr. Moriya yang telah berlangsung beberapa waktu belakangan ini menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya usaha pemberantasan korupsi berlangsung. Yang menjadi objek pemeriksaan adalah pejabat tinggi. Tidak tanggung-tanggung, orang nomor dua di departemen pertahanan (setelah menteri). Posisi menteri sendiri adalah posisi politik yang diisi oleh orang dari partai yang berkuasa (artinya dapat dengan mudah berganti-ganti). Jadi Mr. Moriya benar-benar pucuk pimpinan. Mr. Moriya telah cukup lama menjabat posisi penting itu di departemen pertahanan. Nampaknya ia memang seorang pejabat karir yang meniti karir dari bawah. Secara karir, posisi Moriya adalah posisi tertinggi di departemen pertahanan. Pemeriksaan pun tidak hanya menyasar pada Moriya seorang, tapi juga isterinya.
Moriya tersandung masalah besar karena ia diduga menerima banyak pemberian (baik materil maupun jasa berupa traktiran makan dan bermain golf) dari seorang pimpinan eksekutif perusahaan yang menjadi rekanan departemen pertahanan, yaitu Mr. Yamazaki dari Yamada Corp. Terungkap bahwa selama 11 tahun, Moriya ditraktir bermain golf oleh Yamazaki sekitar 200 kali di berbagai tempat di Jepang. Selain itu juga beberapa kali ditraktir makan. Dalam aturan anti korupsi pemerintah Jepang, bentuk-bentuk layanan semacam ini termasuk dikategorikan sebagai suap dan Moriya sebagai pejabat yang telah senior tahu akan hal itu, tapi ia tetap menerimanya.
Penyelidikan terus menjalar dan melebar menyerempet banyak orang. Beberapa tokoh politik pun terserempet. Isteri Moriya, bahkan telah menjalani pemeriksaan juga dan menyusul ditahan sebagaimana suaminya, karena ternyata terbukti pernah menerima kiriman uang sebesar 2 juta yen dari Yamazaki. Uang itu katanya adalah pinjaman yang dikembalikan dalam satu atau dua tahun, namun tetap saja sang nyonya harus menjalani pemeriksaan dan penahanan. Pemeriksan juga menemukan bukti aliran dana dari Yamazaki kepada putri Moriya yang tengah studi di luar negeri.
Pada awal kasus ini terungkap, Moriya tampil dengan percaya diri menyangkal dugaan-dugaan yang dialamatkan kepadanya. Saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan di parlemen, ia menjawab dengan roman muka yang tenang dan percaya diri. Tapi penyelidikan berkembang ke arah yang menyudutkannya sehingga pada kesempatan berikutnya roman muka Moriya saat menjawab pertanyaan-pertanyaan anggota parlemen sudah jauh berbeda: lelah, stress dan tak berdaya. Mr. Yamazaki sendiri telah lebih dulu ditahan oleh pihak yang berwenang, dan beberapa hari yang lalu Moriya akhirnya menyusul kemudian tak ketinggalan isterinya.
Seperti inilah usah pemberantasan korupsi yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
Ditulis oleh
Khairul Basar