Ada sebuah ulasan singkat yang menarik di surat kabar Japan Times (JTOL), yaitu berkaitan dengan masalah yang muncul akibat rendahnya tingkat kelahiran di Jepang saat ini. Kali ini yang diulas adalah tentang ujian masuk perguruan tinggi. Disebutkan bahwa akibat rendahnya tingkat kelahiran di Jepang yang menyebabkan berkurangnya jumlah generasi muda, maka jumlah remaja yang meneruskan pendidikan di tingkat universitas juga berkurang. Ini menyebabkan persaingan yang terjadi untuk memasuki perguruan tinggi negeri tidak seketat masa-masa sebelumnya. Tentu saja penilaian ini adalah penilaian rata-rata, tingkat persaingan untuk memasuki universitas-universitas top tetap saja berat. Karena secara umum tingkat persaingannya berkurang, maka calon mahasiswa bisa lulus meskipun tidak belajar sekeras pendahulu-pendahulu mereka, begitu yang disebutkan surat kabar tersebut.
Persoalan rendahnya tingkat kelahiran yang berakibat pada berkurangnya jumlah generasi muda Jepang (berarti berkurangnya jumlah warga berusia produktif) memang membawa dampak yang serius di segala bidang. Salah satunya adalah dalam bidang riset ilmu pengetahuan dan teknologinya. Lembaga-lembaga riset yang sangat banyak dan berkualitas tinggi di Jepang harus tetap berjalan sedangkan masalah besar yang dihadapi adalah menurunnya jumlah peneliti asli Jepang. Ini menyebabkan lembaga-lembaga tersebut membuka banyak kesempatan pada peneliti asing untuk bekerja di sana. Tentu saja posisi yang dibuka untuk peneliti asing bukanlah posisi yang strategis dan menentukan arah kebijakan. Saat ini peneliti dari China mungkin yang paling banyak memanfaatkan kesempatan ini.
Sebenarnya, rendahnya tingkat kelahiran di Jepang di satu sisi dapat menjadi kesempatan bagi warga negara lain (termasuk Indonesia) untuk mengadu peruntungan dan mendapat kesempatan menjadi tenaga kerja terdidik di bidang riset ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini seolah simbiosis mutualisma: Jepang punya uang dan fasilitas sementara Indonesia punya manusia.