21 September 2006

Menyambut Shaum Rmadhan



Kesempatan untuk berbuat kebaikan begitu besar dalam bulan Ramadhan, hal ini disimbolkan dengan ungkapan "pintu surga dibuka". Di lain pihak, dengan banyak melakukan kebaikan, kegiatan yang tidak baik berarti dapat ditekan, ini disimbolkan dengan ungkapan "pintu neraka di tutup". Meskipun "pintu surga dibuka" dan "pintu neraka ditutup", tapi hal ini bukanlah suatu jaminan tanpa syarat yang dapat diperoleh begitu saja oleh semua orang. Tentu saja yang berkesempatan untuk mendapatkan "terbukanya pintu surga" adalah orang-orang yang dengan serius melakukan apa yang diperintahkan dikerjakan dalam bulan Ramadhan tersebut. "terbukanya pintu surga" mempunyai keselarasan dengan "tertutupnya pintu neraka". Kalau orang telah menyibukkan dirinya untuk berbuat kebaikan dan mendapati "pintu surga dibuka", berarti secara otmatis ia menutup atau memperkecil kesempatannya untuk melakukan kegiatan yang tidak baik, sehingga otomatis "pintu neraka ditutup" baginya.

Artinya, jika seorang melakukan shaum Ramdhan, tapi tidak didapatinya "pintu surga yang terbuka" maka perlu diperbaikilah shaumnya tersebut. Orang berpuasa namun tidak mendapati dirinya berkesempatan melakukan banyak kebaikan, maka perlu untuk merenungi apa yang sudah dilakukannya tersebut. Hal ini sejalan dengan bila seseorang melakukan puasa, tapi tetap saja didapatinya banyak kesempatan untuk melakukan ketidakbaikan.


Ini semua berarti, apakah kita akan mendapati "terbukanya pintu surga" atau tidak, sepenuhnya tergantung pada kesungguhan kita memanfaatkan kesempatan ini. Janganlah shaum Ramadhan dijalankan sebagai suatu rutinitas ritual tahunan belaka dan mengikut aktifitas orang banyak. Jika ini yang mendasari shaum kita, maka dari tahun ke tahun tidaklah kita menemui peningkatan kebaikan dalam diri kita.

Maka tak salah bila dikatakan bahwa Ramadhan adalah bulan latihan. Karena dalam bulan ini, dengan dijanjikan mendapatkan kebaikan dan manfaat yang lebih besar, seorang yang bershaum dididik oleh Allah untuk banyak melakukan kebaikan dan berusaha menjauhi keburukan. Bukankah ini yang sering disebut sebagai taqwa? Pasti kita semua telah hafal, bahwa tujuan akhir dari rangkaian pendidikan Ramadhan adalah ketaqwaan tersebut. Allah maha tahu jiwa manusia dan cara mendidiknya, dan pada masa Ramdhan inilah masa pendidikan tersebut.

Sejalan dengan kapasitasnya sebagai saat-saat pendidikan dan pelatihan, maka hasil proses pendidikan tersebut seharusnya nampak pada masa-masa di luar masa pendidikan, yaitu mulai bulan Syawal. Secara bahasa, Syawal sendiri berarti peningkatan sedangkan Ramadhan berarti pembakaran. Kebaikan, kesempatan untuk berbuat banyak kebaikan dan kesungguhan untuk meninggalkan keburukan yang kita persiapkan dan latih selama masa pendidikan tersebut harus terus berlaku selepas masa Ramadhan.

Manfaat shaum, pada akhirnya jelas akan kembali pada pelaksananya. Apa hasil yang ingin kita dapatkan pada akhir masa pendidikan Ramadhan, kita pribadi sendirilah yang dapat menentukannya sejak awal. Keinginan untuk mendapatkan hasil akan tercermin dari perilaku dan aktifitas kita selama masa pendidikan tersebut. Oleh sebab itu, bulatkanlah niat memasuki Ramadhan. Niat untuk mendapat sebanyak-banyaknya kebaikan, niat untuk sekuat-kuatnya menjauhi keburukan.

Wallahu a'lam