07 June 2010

Pengemis dan rokok

Pagi hari saat melintasi kemacetan di sekitar terminal Cicaheum, berada di dalam kendaraan yang berjalan pelan saya melihat seorang pengemis yang duduk di trotoar pembatas tengah jalan. Pengemis itu memang selalu mangkal di sana, ia duduk karena nampaknya kakinya cacat. Entah cacat sungguhan atau buatan tidaklah saya perhatikan benar. Yang menjadi perhatian saya pagi ini adalah bahwa di tangannya ada terselip sebatang rokok yang masih panjang. Waw.... pengemis itu ternyata merokok! Mungkin ada orang yang memberinya rokok sebagai pengganti uang kecil. Atau bisa jadi juga ia memang sudah berkecukupan untuk makan hari ini baik untuk dirinya maupun keluarganya sehingga bisalah ia menghisap sebatang rokok di pagi yang cerah.

Beberapa hari yang lalu, istri saya berbelanja ke pasar Ujung Berung. Biasanya ini dilakukannya pagi hari sabtu atau minggu dan berangkat ke pasar selepas sholat subuh. Sepulang dari pasar ia bercerita bahwa ketika berbelanja ada seorang wanita peminta-minta yang meminta sedekah. Uang kecil kembalian beli beras itupun ia berikan kepada peminta-minta itu dan segera peminta-minta itu bergerak menjauh. Lalu tanpa disengaja istri saya mengamati peminta-minta tersebut sampai beberapa meter jauhnya. Bukan main terkejut dan kecewa istri saya melihat si peminta-minta itu kemudian menyerahkan uang yang didapatnya kepada seorang lelaki (istri saya menduga mungkin laki-laki tersebut adalah suami si peminta-minta itu) yang tengah merokok.

Dua kasus tersebut ditambah lagi berita-berita yang pernah terbaca dulu mengingatkan saya bahwa mengemis memang telah menjadi profesi saat ini. Bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan dulu ada diberitakan seorang pengemis di Jakarta yang ternyata mempunyai rumah besar di kampungnya sebagai hasil dari mengemis. Rokokpun bukan barang mewah lagi untuk pengemis. Berapa banyak uang yang digunakannya untuk rokok? Di banyak lokasi strategis bahkan pengemis-pengemis yang berkeliaran dikoordinir oleh seorang koordinator.