Beberapa waktu belakangan ini banyak pemberitaan tentang skandal dan kebohongan yang dilakukan dalam industri makanan di Jepang. Pernah kejadian beberapa bulan yang lalu perusahaan Fujiya yang memproduksi kue-kue coklat ternyata menggunakan bahan-bahan kadaluarsa dalam produksinya. Perusahaan ini padahal telah dikenal luas di seluruh Jepang dan mempunyai banyak pelanggan setia mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang akhirnya kecewa dengan kejadian ini.
Walaupun skandal itu diliput secara luas dan detail oleh media massa Jepang dan sangat jelas bagaimana kecewanya para konsumen sehingga mereka kehilangan kepercayaan pada produsen yang menipu itu, namun ini tidak membuat produsen lain lebih berhati-hati dalam menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk mereka. Terbukti berbagai skandal lain dalam industri makanan susul menyusul terungkap dan dibahas di media massa.
Kira-kira empat bulan yang lalu mulai terungkap adanya suatu kecurangan yang dilakukan oleh suatu perusahaan pengolahan daging Meat Hope yang berpusat di Hokkaido. Perusahaan ini memproduksi daging olahan yang mereka beri label sebagai 100% daging sapi asli. Padahal kenyataannya mereka melakukan penipuan dengan mencampurkan daging babi dan ayam ke dalam produk yang mereka namakan 100% daging sapi asli itu. Tujuannya tentu saja untuk meraih keuntungan yang lebih besar karena daging babi dan ayam harganya lebih murah daripada daging sapi. Begitu kasus tersebut terungkap, pihak berwajib segera melakukan penyelidikan. Hasilnya ternyata mengejutkan karena ternyata bukan hanya kebohongan itu saja yang dilakukan perusahaan itu. Mereka juga mencampurkan darah hewan ternak ke dalam campuran daging tersebut dengan tujuan membuat warnanya menjadi lebih merah sehingga lebih menyerupai daging sapi asli. Jadi bukan hanya mereka berbohong dalam pelabelan, namun juga ternyata menipu dalam proses produksinya.
Kemudian ada lagi kejadian yang lain yang melibatkan produsen pembuat kue mochi yang sudah terkenal. Produk kue mochi yang dinamakan Akafuku itu ternyata berbohong soal tanggal kadaluarsa produknya. Bahkan terungkap bahwa produsen Akafuku menggunakan produk-produknya yang tak terjual sebagai bagian dari bahan baku untuk produksi yang baru. Jadi mereka menggunakan bahan-bahan bekas. Soal skandal tanggal kadaluarsa ini juga dilakukan oleh produsen makanan coklat Shiroi Koibito.
Sebuah perusahaan pengolahaan daging ayam di Prefektur Akita terungkap melakukan kebohongan atas produk yang mereka hasilkan. Salah satu produk daging ayam yang mereka hasilkan mereka sebut dihasilkan dari jenis ayam lokal khusu yang pada kenyataannya adalah ayam biasa. Skandal serupa juga dilakukan oleh perusahaan pengolahaan daging ayam di Nagoya.
Berbagai kejadian kecurangan dan penipuan ini nampaknya masih akan sering terjadi. Sampai-sampai ada kekhawatiran di kalangan konsumen: apakah praktek buruk ini memang hal yang biasa dilakukan dalam industri makanan.
Di Indonesia pun sering sekali kita dikejutkan dengan praktek-praktek yang tidak terpuji dalam industri makanan ini. Yang paling sering kita jumpai adalah penggunaan bahan-bahan yang sebenarnya dilarang dalam proses produksi suatu makanan olahan. Tapi kasus yang terjadi di Indonesia umumnya menyentuh produsen makanan skala kecil bukan pabrikan besar yang menghasilkan produknya dengan mesin-mesin canggih. Berkali-kali diberitakan kasus makanan yang mengandung formalin atau laporan tentang makanan yang menggunakan bahan kimia berbahaya sebagai pewarna atau pelezat. Umumnya, sejauh ini produk olahan yang dihasilkan pabrik besar, masih dianggap aman. Padahal, melihat kasus demi kasus yang terjadi di Jepang yang justru dilakukan oleh perusahaan besar dan telah mempunyai nama, bukan tidak mungkin hal yang sama juga terjadi di Indonesia.