QS 18:60 - 82 berkisah tentang Nabi Musa AS yang menimba ilmu. Nabi Musa belajar hikmat pada seorang hamba Allah yang oleh kaum muslim umumnya dikenal sebagai Khidr. Khidr dijadikan lambang kebijaksanaan yang selalu segar. Nabi Musa meminta izin untuk mengikuti Khidr dalam suatu perjalanan. Awalnya Khidr mengingatkan bahwa mungkin Musa tidak akan bisa bersabar dengan apa yang akan terjadi dalam perjalanan. Musa berjanji bersabar dan mereka pun melakukan perjalanan. Dalam perjalanan ada tiga peristiwa yang membuat Musa memprotes tindakan Khidr. Peristiwa pertama adalah saat Khidr melubangi perahu. Musa memprotes tindakan Khidr namun setelah diperingatkan tentang janjinya Musa pun kembali bersabar. Peristiwa kedua adalah saat Khidr membunuh seorang anak. Musa lagi-lagi memprotes tindakan Khidr, namun kembali diperingatkan oleh Khidr. Musa kemudian berjanji bahwa kalau sekali lagi ia memprotes, maka mereka akan berpisah. Peristiwa yang ketiga adalah saat Khidr memperbaiki sebuah bangunan tanpa mengharapkan imbalan apapun saat mereka sebenarnya sangat membutuhkan makanan. Musa memprotes Khidr karena seharusnya mereka bisa mendapatkan imbalan dari memperbaiki bangunan tersebut. Sesuai dengan janji sebelumnya, peristiwa ketiga inilah yang menjadi batas kebersamaa mereka. Khidr lalu menjelaskan alasan-alasan dalam tiga tindakan yang dilakukannya sebagaimana disebutkan dalam Al Quran.
Dalam komentar yang ditulis oleh Maulana Muhammad Ali, disebutkan bahwa interpretasi ketiga kejadian tersebut menunjukkan perwujudan Kebijaksanaan Ilahi. Kebijaksanaan Ilahi ini selalu hadir dalam setiap langkah kehidupan manusia. Hukum-hukum Ilahi bertujuan membimbing kehidupan ke arah tujuan utama yang ditetapkan oleh Allah. Apa yang Allah tetapkan melalui hukum-hukum alam dan berlangsungnya berbagai peristiwa, semuanya mengarahkan manusia pada tujuan utama penciptaannya meskipun terkadang dicapai melalui kerusakan atau kehilangan. Kadangkala kehilangan dan kerusakan itu nampak begitu jelas seperti pada peristiwa pertama saat Khidr melubangi perahu. Sejatinya kehilangan dan kerusakan yang nyata itu menjadi jalan bagi keuntungan yang besar dan keselamatan bagi orang yang kehilangan. Pada peristiwa kedua, hilangnya jiwa seseorang adalah mendatangkan kebaikan pada kemanusiaan yang lebih besar. Ini menunjukkan bahwa hidup terkadang harus dikorbankan untuk tujuan kemanusiaan yang lebih besar. Peristiwa ketiga menunjukkan bahwa untuk kebaikan kemanusiaan, segala perbuatan harus dilakukan tanpa mengharapkan imbalan. Kebaikan yang dilakukan oleh suatu generasi hasilnya tidak terbatas hanya pada generasi itu saja.