Kabinet PM Abe di Jepang terus menerus menerima tekanan. Beberapa bulan yang lalu kasus komentar salah seorang menteri yang menyinggung perasaan kaum wanita. Protespun berkepanjangan, dan menjadi ini menjadi amunisi bagi kelompok oposisi untuk terus menekan pemerintahan PM Abe. Kemudian belum lama berselang saat salah seorang menteri ditemukan tewas bunuh diri di apartemennya. Ada kasus kecurangan yang melatarbelakangi bunuh diri tersebut. Lagi-lagi ini menambah tekanan untuk kabinet Abe dan membuat popularitas PM Abe dan kabinetnya menurun.
Hari ini adalagi kasus terbaru, yaitu mundurnya menteri pertahanan (朝日新聞). Penyebabnya adalah lagi-lagi 'salah kata'. Dalam sebuah acara beberapa hari yang lalu, sang menteri menyampaikan komentar menyinggung hal yang sensitif yaitu tentang bom atom. Secara sederhana, dalam komentarnya tersirat bahwa menurutnya bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki pada saat perang dunia adalah wajar dan merupakan salah satu cara untuk segera mengakhiri perang. Kontan saja komentar ini disambut dengan protes oleh banyak kalangan di Jepang. Tidak terkecuali partai yang berkoalisi dengan partainya PM Abe. Permintaan maaf yang ia sampaikan dua hari yang lalu tidak menyurutkan komentar pedas dan protes terhadapnya. Karena tekanan makin kuat baik terhadap kabinet maupun partai, maka si menteri tersebut akhirnya mengajukan pengunduran diri.