Telah berlalu sekitar satu tahun sejak penerbitan pertama kali kartun yang menghina Nabi Muhammad oleh salah satu surat kabar di Denmark dan sekarang kasus yang sama diulangi lagi di negara yang sama pula. Sebuah stasiun televisi di Denmark menayangkan acara perlombaan kartun yang di lakukan oleh kelompok muda suatu partai kanan. Dan dalam lomba kartun tersebut, pembuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad nampaknya menjadi salah satu topik utama.
Umat muslim di seluruh duni harus belajar dari kasus sebelumnya, di mana aksi protes apalagi yang berujung pada tindak kekerasan hanya akan menyenangkan orang-orang yang membuat masalah tersebut saja. Mereka ini, orang-orang yang tidak tahu dan pengecut mencoba berlindung di balik kebebasan yang berlebihan. Mereka memang akan senang jika umpan mereka, yaitu provokasi yang mereka tampilkan di santap oleh kaum muslim. Karena memang inilah yang mereka inginkan.
Kita harus melihat provokasi mereka kali ini juga tidak lebih dari umpan belaka dan seharusnya tidak perlu kita tanggapi. Bukan hanya tidak perlu diprotes, melainkan tidak perlu ditanggapi. Kita telah melihat bagaimana kasus sebelumnya menjadi merebak dan ramai dibicarakan justru setelah adanya suara-suara protes. Semakin keras protes yang disuarakan, semakin banyak yang menampilkan gambar-gambar kartun itu. Dan begitu aksi protes menjelma menjadi aksi yang berlebihan, para provokator tersebut pun bersorak merayakan kemenangan mereka, karena umpan mereka yang disantap oleh kaum muslimin. Apakah kejadian ini akan berulang? Jika masih tetap diprotes, maka mereka akan makin ramai, lalu protes berbuah aksi yang berlebihan, dan mereka bersorak lagi. Lain waktu pun kejadian ini akan berulang lagi.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa ada alasan politik yang melatarbelakangi pkasus kartun kali ini. Hal ini bisa dilihat dari penyelenggaranya yang merupakan salah satu partai politik di Denmark. Partai ultra kanan ini memang mempunyai ideologi anti pendatang. Mereka memanfaatkan cara ini untuk tujuan politiknya. Jadi sekali lagi, jangan memakan umpan mereka.
Mengapa kita harus marah terhadap apa yang mereka buat? Bukan kemarahan yang akan menyelesaikan masalah. Kemarahan dan protes hanya akan memperpanjang masalah. Jika ada orang yang menyatakan hal yang salah tentang Nabi Muhammad, bukanlah kemarahan yang harus kita berikan, melainkan informasi yang benar dan koreksi. Kenapa pula kita menganggap tokoh yang digambarkan itu sebagai Nabi Muhammad?
Kemuliaan Nabi Muhammad bukan berasal dari penghormatan dan pembelaan orang yang mengaku sebagai pengikutnya. Kemuliaan beliau berasal dari Allah SWT. Allah lah yang memuliakannya. Jika Allah yang memuliakannya, maka seluruh isi dunia tidak dapat menghinakannya. Telah terbukti sepanjang sejarah, bagaimana orang mengolok-oloknya dengan berbagai cara baik lisan maupun tulisan, langsung maupun tidak langsung. Tapi kita saksikan bahwa sejarah tetap berpihak pada kemuliaan beliau. Cemoohan yang dilakukan musuh-musuh beliau dan orang-orang yang tidak tahu tentang beliau sama sekali tidak berpengaruh pada kemuliaan beliau.
Kartun ini menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak senang dengan beliau semakin kehabisan cara untuk menuntaskan kekesatan hati mereka. Mereka terbalut oleh rasa benci mereka sendiri. Jangan biarkan mereka merasa berhasil menuntaskan kebencian mereka. Biarkan mereka terkubur oleh kebencian mereka yang semakin lama semakin menjadi-jadi itu. Kita anggap saja kebencian mereka yang mereka coba ungkapkan sebagai penyakit hati yang terus bertambah-tambah karena mereka sendiri yang enggan untuk melihat dengan benar.