Mulai terasa panas.... panas... panas. Baru saya sadari ternyata di Jepang ini peralihan dari musim semi ke musim panas ditandai dengan curah hujan yang sangat tinggi di berbagai tempat hampir di seluruh Jepang. Tahun 2006 ini, hampir sepanjang bulan Juli di TV selalu diberitakan terjadi curah hujan tinggi di daerah anu, banjir di sana, longsor di sini. Pokoknya memang masa-masa rawan bencana deh....
Orang Jepang sendiri memang mengenal antara bulan Juni dan Juli sebagai "musim penghujan". Dan kalau sudah datang itu awan hujan, memang bisa sampai dua minggu tidak bisa mendapati hari yang benar-benar cerah.

Kyushu merupakan daerah yang biasanya paling banyak mendapat akibat dari tingginya curah hujan tersebut. Banyak terjadi banjir, longsor, rumah hanyut, jalan raya yang putus, tiang listrik yang roboh dan tentu saja selalu menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Selain daerah Kyushu, daerah Niigata dan Nagano juga banyak diberitakan mengalami curah hujan yang luar biasa.
Jepang memang akrab dengan bencana. Bencana alam yang rutin bisa terjadi sepanjang tahun. Yang rutin ini misalnya adalah taifu, salju yang sangat tebal, hujan. Sedangkan yang tidak rutin pun tidak kalah mengancamnya yaitu: gempa.
Tapi menyaksikan bencana di Jepang, berarti juga menyaksikan bagaimana perlengkapan pertahanan Jepang turun tangan mengatasi bencana tersebut. Nampaknya militer Jepang yang sejak PD II telah dilucuti dan dilarang terlibat dalam aksi militer telah cukup punya pekerjaan berat setiap waktunya, yaitu menjadi tenaga untuk menyelamatkan masyarakat dari bencana alam. Jadi, militer Jepang sebenarnya tetap saja terus berperang, hanya saja mereka berperang dalam mengevakuasi korban bencana alam.