18 August 2006

Menyikapi perbedaan dan "kesesatan"

Allah SWT berfirman dalam Al Quran:

UNTUK TIAP - TIAP UMAT DI ANTARA KAMU . KAMI BERIKAN ATURAN DAN JALAN YANG TERANG . SEKIRANYA ALLAH MENGHENDAKI , NISCAYA KAMU DIJADIKAN - NYA SATU UMAT (SAJA ) , TETAPI ALLAH HENDAK MENGUJI KAMU TERHADAP PEMBERIAN - NYA KEPADAMU , MAKA BERLOMBA - LOMBALAH BERBUAT KEBAJIKAN . HANYA KEPADA ALLAH - LAH KEMBALI KAMU SEMUANYA , LALU DIBERITAHUKAN - NYA KEPADAMU APA YANG TELAH KAMU
PERSELISIHKAN ITU (5:48)
HAI ORANG - ORANG YANG BERIMAN , JAGALAH DIRIMU ; TIADALAH ORANG YANG SESAT ITU AKAN MEMBERI MUDHARAT KEPADAMU APABILA KAMU TELAH MENDAPAT PETUNJUK . HANYA KEPADA ALLAH KAMU KEMBALI SEMUANYA , MAKA DIA AKAN MENERANGKAN KEPADAMU APA YANG TELAH KAMU KERJAKAN. (5:105)
DAN JANGANLAH KAMU MEMAKI SEMBAHAN - SEMBAHAN YANG MEREKA SEMBAH SELAIN ALLAH , KARENA MEREKA NANTI AKAN MEMAKI ALLAH DENGAN MELAMPAUI BATAS TANPA PENGETAHUAN . DEMIKIANLAH KAMI JADIKAN SETIAP UMAT MENGANGGAP BAIK PEKERJAAN MEREKA . KEMUDIAN KEPADA TUHAN MEREKALAH KEMBALI MEREKA LALU DIA MEMBERITAKAN KEPADA MEREKA APA YANG DAHULU MEREKA KERJAKAN. (6:108)
KATAKANLAH : " APAKAH AKU AKAN MENCARI TUHAN SELAIN ALLAH , PADAHAL DIA ADALAH TUHAN BAGI SEGALA SESUATU . DAN TIDAKLAH SEORANG MEMBUAT DOSA MELAINKAN KEMUDHARATANNYA KEMBALI KEPADA DIRINYA SENDIRI ; DAN SEORANG YANG BERDOSA TIDAK AKAN MEMIKUL DOSA ORANG LAIN . KEMUDIAN KEPADA TUHANMULAH KAMU KEMBALI , DAN AKAN DIBERITAKAN - NYA KEPADAMU APA YANG KAMU PERSELISIHKAN ". (6:164)
TENTANG SESUATU APAPUN KAMU BERSELISIH , MAKA PUTUSANNYA ( TERSERAH ) KEPADA ALLAH . ( YANG MEMPUNYAI SIFAT - SIFAT DEMIKIAN ) ITULAH ALLAH TUHANKU . KEPADA - NYALAH AKU BERTAWAKKAL DAN KEPADA - NYALAH AKU KEMBALI. (42:10)
Di saat sekarang ini banyak sekali kasus yang berkaitan dengan tindakan kekerasan yang didasarkan pada perbedaan pandangan terhadap suatu hal. Dalam banyak kasus perbedaan pandangan tersebut menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan persoalan keagamaan. Tak jarang kita dengar dan saksikan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kelompok lain dengan mengatasnamakan agama.

Tindakan kekerasan terhadap orang yang berbeda pandangan nampaknya telah berlangsung sejak dulu dan tidaklah menjadi monopoli suatu kelompok masyarakat tertentu saja. Di setiap bagian perjalanan sejarahtelah banyak tercatat korban jiwa karena dipicu adanya perbedaan pandangan.

Menurut pandangan pribadi saya, ayat-ayat Al Quran tersebut di atas mengajarkan pada kita bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang yang berbeda pandangan dan keyakinan dengan apa yang kita yakini.

Persoalan keyakinan merupakan persoalan yang sangat pribadi, menurut saya keimanan seseorang hanyalah diketahui oleh orang tersebut dan Allah. Adapaun kualitas keimanannya hanyalah Allah yang mengetahui. Si orang yang bersangkutan, walaupun merupakan individu yang paling mengetahui apa yang ada dalam hatinya tapi terkadang mempunyai penilaian yang diliputi oleh hawa nafsu dan perasaan benar sendiri, akibatnya kualitas keimanan seseorang hanyalah Allah yang mengetahuinya.

Dalam suatu hadits diceritakan bahwa Rasulullah melarang membunuh orang (bahkan dalam suatu pertempuran) yang telah mengucapkan kalimat syahadat. Seorang sahabat kemudian bertanya, bagaimana bila syahadat orang tersebut hanya untuk mengelabui orang lain dan mencari selamat setelah jiwanya terancam. Rasulullah menjawab bahwa hanya Allah-lah yang mengetahui keimanan seseorang. Teks hadits tersebut mungkin tidak secara tepat dapat saya sampaikan, namun kira-kira isinya adalah seperti itu.

Kita tidak bisa menduga apa yang ada dalam hati seseorang. Rasulullah mengajarkan dalam peristiwa tersebut bahwa urusan keimanan seseorang adalah urusan pribadi yang bersangkutan dengan Allah, dan Allah-lah yang akan menilainya. Jika kita ingin melakukan penilaian terhadap keimanan seseorang, ketahuilah bahwa kita akan melakukan penilaian berdasarkan pendapat dan subjektivitas kita. Kembalilah bertanya pada diri sendiri sebelum melakukan penilaian tersebut: 'Telah luruskah keimanan kita sendir terhadap Allah SWT?' Dengan keterbatasan pandangan manusia, maka kita cenderung menilai orang lain dengan menggunakan ukuran yang ada pada diri kita sendiri. Penilaian yang dapat kita lakukan adalah sebatas yang tampak saja.

Ayat-ayat yang dikutip di atas sungguh merupakan suatu bentuk pengajaran nilai-nilai toleransi terhadap orang yang mempunyai perbedaan pandangan ataupun keyakinan dengan kita. Dalam ayat yang pertama disebutkan bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang memang telah dikehendaki oleh Allah SWT, yang dengan itu Allah menguji hambanya atas apa yang telah dikaruniakanNya. Bukan kekerasan dan pemaksaan kehendak yang menjadi solusi dari perbedaan, melainkan berlomba dalam berbuat hal yang baik. Dan apa yang kita perselisihkan di dunia ini, yang menjadi pangkal perbedaan pendapat, Allah-lah nanti yang akan menjelaskannya. Sesungguhnya Allah adalah Hakim Yang Maha Adil, yang putusan-putusanNya adalah benar. Sementara putusan hakim manusia selalu didasarkan berbagai pertimbangan duniawi.

Dalam ayat yang kedua juga secara tegas dikatakan bahwa untuk menjaga diri dari kesesatan bukanlah dengan menyerang keluar melainkan dengan menjaga diri dan memperkuat diri dengan petunjuk dari Allah SWT. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa untuk menghindari dan menjaga diri dari kesesatan, maka kita harus meningkatkan pengetahuan kita agar kita semakin banyak mendapat petunjuk. Menghindari diri dari kesesatan tidak dilakukan dengan menyerang orang lain, melainkan dengan koreksi internal dan menelaah diri sendiri, memperbaiki diri sendiri.

Dalam ayat ketiga Allah mengajarkan suatu bentuk sikap toleransi yang sangat dalam. Janganlah menghina sembahan-sembahan orang lain. Sembahan yang dimaksud di sini tidak harus berujud materi, melainkan dapat juga immateri seperti pemikiran ataupun ideologi. Allah juga menyatakan bahwa sikap menganggap diri sebagai yang paling benar merupakan sikap yang dimiliki oleh semua manusia. Setiap orang, umat selalu menganggap benar apa yang dikerjakannya dan mengganggap orang lain yang tidak sepertinya sebagai salah. Kembali dalam ayat ini Allah mengajarkan bahwa sebaik-baiknya putusan benar salah adalah pada Allah. Allah-lah yang nanti, kelak di Hari Pembalasan, akan menjelaskan apa yang menjadi perselisihan dan pertentangan di antara manusia.

Ayat berikutnya mengajarkan tentang konsekuensi yang ditanggung akibat suatu perbuatan. Kesalahan yang dikerjakan seseorang adalah menjadi tanggung jawabnya sendiri. Setiap orang akan bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan sendiri. Orang tidak akan bertanggung jawab atas dosa orang lain, setiap orang bertanggung jawab terhadap keimanannya sendiri.

Ayat-ayat yang dikutip di atas hanyalah sebagian kecil dari pengajaran yang diberikan Allah melalui Rasulnya mengenai bagaimana kita menyikapi perbedaan pandangan dalam kehidupan ini. Uraian yang dituliskan di atas bukanlah suatu tafsir atas ayat-ayat Allah. Saya hanya berusaha merenunginya dan mencoba mengaitkannya dengan fenomena yang terjadi dewasa ini. Berbagai kekurangan dan keterbatasan adalah bersumber dari keterbatasan pengetahuan dan pemahaman dalam diri ini adapun ayat-ayat Allah adalah sumber kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Benar dan Maha Mengetahui. Wallahu a'lam.