Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari Muslim).
Hadis tersebut memuat semacam resep praktis dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat, agar pelakunya dapat hidup dalam keharmonisan dengan lingkungan sekitarnya. Ada dua sisi yang disinggung dalam hadis tersebut, pertama adalah dalam hal lisan dan kedua menyangkut tindakan. Berikut ini adalah sedikit renungan tentang lisan.
Telah sama-sama kita maklumi bahwa lisan kita dapat melukai hati orang lain. Sebuah pepatah bahkan mendramatisir efek kata-kata atau lisan ini: 'Jika pedang lukai tubuh, masihlah ada harapan sembuh. Jika lidah lukai hati, ke mana obat hendak dicari?'. Begitu hebatnya akibat yang dapat ditimbulkan oleh lisan. Lisan atau kata-kata juga dapat digunakan untuk membangkitkan semangat orang lain, membakar hati dan menelurkan perubahan. Revolusi mungkin dimulai dari kata-kata yang membakar hati. Bung Tomo dahulu dengan lisannya pula menyalakan semangat masyarakat Surabaya saat menghadapi pasukan Sekutu tahun 1945.
Kemampuan berkata-kata memang menjadi kelebihan manusia. Barangkali ini salah satu hikmah yang bisa kita peroleh dalam kisah Nabi Adam yang diceritakan dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah. Bahwa Adam diberi kemampuan untuk menyebut kembali nama-nama yang telah diajarkan Allah kepadanya. Dan kemudian malaikatpun diperintahkan untuk memuliakan Adam. Dengan lisan pula pengetahuan berkembang. Lisan, dalam bentuk yang lebih kompleksnya adalah tulisan. Tulisan merupakan ungkapan lisan dengan menggunakan media visual. Lalu kita dianjurkan menjaga lisan kita, menjaga lidah kita dan hanya menggunakannya dalam hal kebaikan.
Ada ungkapan lagi yang cukup menarik, 'Kata-kata adalah tawananmu sebelum kau ucapkan, tapi setelah diucapkan engkaulah yang menjadi tawanannya'. Mengetahui kapan harus bicara dan kapan harus diam, mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan oleh Nabi SAW dalam hadis tersebut. Mengapakah Nabi tidak mengatakan 'hendaklah ia diam atau berkata baik'? Karena memang menyampaikan kebenaran (berkata baik) lebih utama daripada diam. Diam adalah suatu sikap pasif sedangkan berkata baik adalah bentuk keaktifan. Dan dalam hadis lain disebutkan bahwa muslim yang aktif lebih baik dari muslim yang pasif.
Berkata baik bukan cuma dalam substansi atau isi, melainkan pula dalam cara dan saat. Artinya substansi yang baik jika disampaikan dengan cara atau saat yang tidak baik dapat pula menimbulkan ketidakharmonisan. Lantas apakah ini berarti mendekati hipokrit? Tentulah tidak, karena itu memang diperlukan ilmu dalam menyampaikan sesuatu.